Tanah yang dirindu

by - 3:39 PM


Masa usia taman kanak-kanak akan sangat sulit ku lupakan. Betapa tidak, menghabiskan masa kecil sekian tahun di Tana Toraja menyisakan banyak kesan yang manis di hati saya. Maklum, saat itu belum ada gawai seperti saat ini. Hanya hasil cetak dari kamera tustel yang itu pun kini sudah mulai luntur dimakan masa. Sisanya terkenang dalam ingatan yang bisa ku  recall kapanpun saya merindukan.
Saya terkenang pada suatu hari di tahun 1999, pagi itu ketika kota Makale sedang diguyur gerimis ringan, bapak bersama teman-temannya mengajak ku pergi. Saya hanya tahu perjalanan itu cukup jauh. Hingga kami tiba ke sebuah kawasan yang dihiasi banyak miniatur patung kayu juga mulut-mulut gua yang dihiasi banyak tengkorak, namun ramai dikunjungi orang. Saya menelan ludah, takut dan membatin “tempat macam apa ini?”.  Namun berbeda denganku, bapak dan rekannya justru sangat antusias menjajaki satu area ke area yang lain. Belakangan ku ketahui bahwa tempat itu bernama Londa, salah satu kawasan pekuburan batu yang terletak di Tana Toraja.
 Saya melihat batu yang sangat besar, yang ditengahnya terselip beberapa patung kayu lengkap dengan bajunya. Ya, mereka menamakan patung kayu tersebut sebagai Tau-Tau. Pembuatan Tau-tau memerlukan upacara adat dan membutuhkan budget yang tidak sedikit. Biasanya diimplementasikan oleh masyarakat yang berdarah bangsawan, sehingga pembuatan Tau-tau bukanlah sebuah kewajiban bagi masyarakat Tator alias Tana Toraja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Tau-tau dibuat sebagai upaya mereka untuk tetap terhubung dengan mendiang sebab diyakini bahwa ruh sanak keluarga masih tersimpan disana (1).

credit to here

Selain Tau-tau, saya dan rombongan bapak menelusuri gua demi gua. Kita harus menyalakan senter dan sedikit membungkuk sebab ukuran gua yang sangat kecil untuk ukuran tinggi manusia. Kami lalu berswafoto bersama, dan menelusuri gua lainnya.  Meskipun banyak tengkorak dan akses jalan yang sulit, para pengunjung tidak patah semangat untuk menelusuri gua yang katanya memiliki kedalaman hingga 1000 meter ini.
Perlahan rasa takut ku pun memudar sebab begitu ramai pengunjung berdatangan, meski rintik-rintik hujan tak berhenti berjatuhan. Jika ada kesempatan ke Toraja, mungkin saya akan berkunjung kesana lagi. Saya penasaran sudah seperti apa kenampakannya saat ini. Semoga saya bisa kesana bersama bapak, sosok yang meredam rasa takut dan menyulam manis kenangan masa kecilku.

taken from here

Referensi
1.      Channel Youtube Susilo Bambang Yudhoyono. 2014. Menjelajahi Aroma Mistis Goa Londa.  https://www.youtube.com/watch?v=FUuDQiqcvsE.


#ODOPBatch7
#OneDayOnePost
Tugas Tantangan pekan ke-6 membuat tulisan feature tentang wisata
Fotonya jadi credit milik orang lain, soalnya foto-foto asli ada di Makassar ^^

You May Also Like

0 komentar

Blog Archive

Entri yang Diunggulkan

Ibrah: Orang-orang Pergi. Apakah Mereka Kembali?

Bismillah. Kepergian itu sulit. Tapi, kehilangan lebih sulit lagi. Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Jawabannya membawa saya...

Nobody's perfect

Pengikut