Memahami Makna “Best Before” dalam Kemasan Pangan

by - 6:19 PM

Ketika tanggal atau bulan yang tertera pada kemasan sudah menghampiri, tak sedikit dari para konsumen yang menganggapnya tidak layak lagi untuk dinikmati. Dan berikutnya kita pun menemukan pangan tersebut sudah berada di tumpukan sampah, yang sebenarnya masih memungkinkan untuk diolah kembali. Penting untuk memahami makna dari dua frasa best before serta expired date pada kemasan pangan, yang memuat informasi kadaluarsa. Menurut Arpah (2007), best before dapat dinyatakan sebagai tenggang waktu suatu produk masih mampu untuk mempertahankan kualitasnya sesuai yang diharapkan konsumen. Hal ini juga mengindikasikan bahwa kondisi terbaik produk tersebut untuk dikonsumsi adalah sebelum tanggal atau bulan bahkan tahun yang tertera dalam kemasan tersebut.

Jika dibandingkan dengan expired date, pangan dengan label best before atau ‘baik digunakan sebelum’ lebih berkaitan dengan upaya agar konsumen dapat menikmati pangan tersebut dalam kondisi yang paling prima atau dengan kesegaran yang optimal. Tentu hal ini berlaku selama kemasan belum dibuka. Sebab sekecil apapun celah terbuka, tentu proses kontaminasi akan mulai terjadi misalnya melalui udara yang berperan untuk menurunkan kualitas pangan baik dari segi nutrisi maupun sensori. Adapun jika dikonsumsi sesaat setelah lewat waktu yang tertera, disertai kemasan yang masih utuh maka tidak memberikan efek yang berbahaya bagi kesehatan namun kesegaran atau kualitas prima secara perlahan akan mengalami penurunan.



Hal ini menjadikan label best before tidak mengindikasikan keamanan pangan, namun lebih kepada peran mikroba pembusuk dalam menurunkan kualitas sensori, serta beberapa faktor lainnya yang dipicu oleh perubahan fisikokimia. Hal penting lainnya adalah alangkah bijaknya jika produk pangan tersebut disimpan sesuai saran serta petunjuk yang tertera pada kemasan. Sesaat setelah kemasan dibuka misalnya, disarankan menyimpan susu cair pada suhu kulkas dan agar dihabiskan selama 4 hari atau menyimpan susu bubuk pada wadah yang kering, tertutup rapat, dan dihabiskan dalam waktu 3 minggu.

Meskipun begitu, kita tetap harus jeli melihat indikasi kerusakan pada pangan yang telah melewati waktu best before. Tentu indrawi kita yang meliputi penciuman, peraba, perasa, tak akan berdusta dalam mendeteksi ketidaknormalan pangan yang berimbas pada kelayakannya untuk dikonsumsi. Oleh karenanya pangan dengan label best before sebaiknya tidak diperdagangkan kembali, karena terkhusus kualitas sensorinya perlahan mulai mengalami penurunan. Bukankah konsumen menginginkan kondisi pangan terbaik dalam bentuk aroma, tekstur, warna, kenampakan, maupun rasanya? Hal ini termaktub dalam PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, pada pasal 27 ayat (2), bahwa meskipun keterangan yang digunakan adalah kata “baik digunakan sebelum”, namun hal ini tidak mengurangi makna ketentuan yang menyatakan tentang larangan memperdagangkan pangan yang melampui saat kadaluwarsanya.

Berbedabest before, label expireddate justru menyatakan kewaspadaan tinggi untuk tidak mengonsumsi pangan setelah waktu yang tertera dalam kemasan. Berdasarkan dengan serangkaian uji mikrobiologis dan sensori, dikhawatirkan akan memberikan efek fatal bagi kesehatan. Salah satu hal yang mendasari kewaspadaan ini adalah munculnya mikroba patogen yang berperan dalam menimbulkan penyakit pada tubuh.

Kekeliruan menganggap pangan lewat waktu best before tidak layak dikonsumsi menyebabkan tingginya kontribusi sampah yang berasal dari rumah tangga. Hal ini tanpa disadari bermuara kepada kebiasaan mubadzir. Sehingga tidaklah keliru FAO dalam memperkirakan sekitar 1,3 miliar ton pangan terbuang begitu saja setiap tahunnya. Oleh karenanya pemahaman yang baik akan sangat membantu dalam memaksimalkan konsumsi pangan dengan bijak, serta mengurangi kontribusi kita terhadap peningkatan sampah. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah pangan yakni membeli pangan sesuai kebutuhan alias tidak berlebihan. Sebab pada akhirnya sungguh miris jika pangan harus dibuang karena kadaluwarsa. Hal lainnya yang dapat dilakukan adalah menyimpan produk pangan sesuai saran penyimpanan yang terletak dalam kemasan. Selain itu kepanikan akan tenggang waktu yang tertera dalam kemasan pangan tertentu, dapat dialihkan dengan berupaya untuk mengkreasikan beragam produk menjadi olahan pangan misalnya membuat aneka kue berbahan dasar mentega serta tepung terigu yang notabene-nya telah lewat masa kualitas terbaiknya. Dan tentu hal terbaik adalah mengedukasikan pemahaman ini kepada orang disekitar anda, agar lebih bijak dalam menangani pangan yang telah melewati masa best before untuk dikonsumsi. Sekarang sudah tercerahkan dengan label best before dalam kemasan pangan, bukan? Mari bersama meminimalisir sampah pangan, dimulai dari diri sendiri.

Ditulis oleh Rizki Aristyarini
Dipublish kembali.
Artikel asli: Koran harian Fajar (Makassar) Edisi Senin, 15 Januari 2018

You May Also Like

0 komentar

Blog Archive

Entri yang Diunggulkan

Ibrah: Orang-orang Pergi. Apakah Mereka Kembali?

Bismillah. Kepergian itu sulit. Tapi, kehilangan lebih sulit lagi. Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Jawabannya membawa saya...

Nobody's perfect

Pengikut