Kehangatan hakiki dari semangkuk coto

by - 11:21 PM


Sepekan terakhir seperti diberi kado sama Allah. Aku bersyukur sebab ditakdirkan serumah dengan beberapa teman sekampung dan juga teman dari daerah lain yang sama-sama baiknya. Entah mengapa kaka tertua memulai euphoria makan malam dengan masakan daerah Makassar. Rasanya indah sekali menebus rindu dengan cara seperti ini. Kami menghabiskan makan malam bersama dipermulaan semester yang baru. Menu kapurung (bulatan-bulatan sagu yang dinikmati dengan kuah bersayur), mi titi (mi kering yang telah digoreng dibalur kuah aci bersayur), dan coto Makassar (potongan daging, paru, babat, yang dinikmati bersama kuah kaya rempah (sarihusada.co.id menyatakan terdiri atas 40 jenis rempah hm… yummie! Sangat sehat). Aku bersyukur memboyong semua daging mentah, paru, serta babat bersih pemberian om Imran dari Tangerang. Alhamdulillah bisa dinikmati oleh teman-teman sekosan. Coto Makassar menjadi yang terfavorit menurutku, mungkin karena kuah hangatnya yang begitu nikmat dan gurih sehingga tak jarang bikin kepengen nambah lagi.

Mungkin terlihat seperti makan malam biasa. Namun disisi lain kita belajar untuk ‘mau’ berkutat dengan masak-memasak, merangsang kepekaan untuk mau peduli dan bekerja sama, lebih menghargai masakan di kampung halaman, menjadikannya momen untuk saling mengenal satu sama lain yang kerapkali diselingi dengan tips untuk menaikkan atau menurunkan berat badan. Tanpa sadar momen ini menjadikan kita jadi saling menghargai satu sama lain. Bukankah ukhuwah menjadi sesuatu yang perlu dirawat apalagi jika kita sesama muslim? : )

credit to makanlagi.com 

Lebih dari itu poin pentingnya adalah bagaimana seorang yang introvert (tertutup) berusaha belajar untuk memberikan sedikit kelonggaran dihatinya untuk berbaur dengan orang lain, apalagi di bawah atap yang sama. Tak jarang saat kos, ada penghuni yang cenderung lebih senang menyendiri. Momen seperti ini sangat baikdimanfaatkan untuk rehat sejenak dari kesendirian kita. Rasa mager (malas gerak) mungkin kerap menghampiri, tapi mari kita menutup mata akan hal itu untuk sementara. Toh berbaur seperti ini tidak terjadi setiap hari bukan? Sebab setiap orang punya kesibukan masing-masing. Saat berbaur dengan penghuni lainnya bukan tidak mungkin kita bisa menemukan orang lain yang click untuk diajak seru-seruan atau sekedar memperoleh info penting ter-update yang belum sampai ke telinga kita. Mungkin itu hanya secuil kehangatan yang tercipta dibalik acara seru-seruan di kosan. Kita hanya perlu ingat bahwa, kita tidak akan mungkin bisa hidup sendirian. Mencoba menjalin pertemanan dengan orang terdekat (serumah) bukanlah sebuah hal yang harus dihindari, sebab perlahan suatu saat kita pasti akan membutuhkan orang lain. Bukankah orang-orang terdekatlah yang nantinya terlebih dahulu mengulurkan tangan?

Menu besar seperti ini rasanya perlu untuk dilakukan sesekali, menjadi momen refreshing dari rutinitas sehari-hari serta sebuah cara untuk menyalurkan rindu akan kampung halamanmu dan obat untuk membalur kesendirianmu.

Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)

Maraji’:
Dalil dikutip dari rumaysho.com

You May Also Like

0 komentar

Blog Archive

Entri yang Diunggulkan

Ibrah: Orang-orang Pergi. Apakah Mereka Kembali?

Bismillah. Kepergian itu sulit. Tapi, kehilangan lebih sulit lagi. Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Jawabannya membawa saya...

Nobody's perfect

Pengikut