Tak ada cara lain

by - 6:21 PM


Aku banyak berkaca pada orang-orang yang banyak menghiasi layar kaca juga feed media sosialku. Mereka tidak seperti orang kebanyakan, yang begitu menikmati hidup dengan sangat santai serta memiliki jam-jam berlebih untuk selalu memantau media sosial dari bangun hingga tidur kembali. Mereka beda, mereka orang-orang yang memiliki segudang prestasi atau hal-hal yang bisa dibanggakan. Sangat jarang menemukan mereka memamerkan keluhannya juga ratapan kesedihan. Mereka bekerja keras dalam diam, prestasinya mengeluarkan suara lantang, mendulang perhatian, juga menjadi pembuktian bagi orang-orang yang selalu meremehkan.

https://www.flickr.com/photos/white_flower/6927812231

Mereka tak lain adalah dosen-dosenku dikampus, para atlet yang membuatku jatuh hati sejak Indonesia open 2011, saat Asian Games 2018, juga para selebriti dengan segudang prestasi. Saat ku telisik dan menghayati biografi hidupnya maka aku menemukan kesamaan yang memberikan sumbangsih besar bagi pencapaiannya hari ini. Selain berdoa dan mencintai “hal” yang ditekuni, tak ada cara lain untuk sebuah kemenangan dan pencapaian cita-cita kecuali kerja keras dan disiplin. Kerja keras mereka melingkupi kesediaan mereka untuk bangkit ketika gagal meraih target, usaha mereka untuk fokus bekerja daripada mendengarkan komentar orang yang selalu menjatuhkan, juga totalitas yang tercermin dari kedisiplinan mereka dalam menghargai waktu.

Kerja keras dan disiplin menjadi syarat dari sekian banyak hal yang membuka kemenangan mereka. Ahh… maka rugilah waktuku jika hanya menyimak biografi mereka tanpa menarik kebiasaan mereka untuk diimplementasikan dalam hidupku. Semua orang tentu tak ingin hidup sia-sia, mati tanpa karya, tanpa sebuah pencapaian. Namun tidak sedikit juga yang bergumul terlalu lama dengan rasa malas, ogah-ogahan, dengan sejuta alasan. Hm.. mager, mungkin itu bahasa gaulnya. Pada akhirnya kita hanya sibuk mengkhayal dan menjadi penonton atau orang-orang yang sibuk berkomentar akan pencapaian seseorang. Duh.. wana’udzubillah.

Diusia yang tersisa, ku harap Tuhan senantiasa mendewasakan hati dan pola pikir kita untuk lebih menghargai waktu serta limpahan karunia-Nya yang senantiasa menghujani hidup kita. Penyesalan diujung jalan itu pasti ada, senantiasa menunggu disana. Namun kuharap kita bukanlah orang-orang yang akan menemuinya kelak, bukan orang yang jalannya berujung disana untuk kesekian kali (*aamiin ya Allah). Doa dan keyakinan yang begitu kuat semoga juga diimbangi dengan kerja keras dan kedisiplinan dalam menjalankan rencana yang telah menghiasi buku catatan sebagai langkah-langkah kecil yang ditapaki untuk meraih tujuan. Sebab kita tentu ingin berkembang, bukan? Rasa bosan bisajadi kerap menggelitik hati kala kita hanya jalan ditempat, mendesak untuk segera melangkah. Ehm.. ataukah kita justru tidak pernah merasa bosan (dalam menikmati kemalasan-kemageran kita)? Nikmat Tuhan sangat banyak yang patut disyukuri dan tak cukup dengan ucapan Alhamdulillah namun dengan berusaha baik-baik bermodalkan nikmat-nikmat tersebut (kesehatan, uang, fisik yang tidak cacat, keluarga-teman-lingkungan yang baik, sekolah atau kantor yang baik). Iya. Diluar sana banyak sekali orang yang memimpikan untuk berada diposisi kita. Yuk, sama-sama berubah menjadi lebih baik, sebab tak ada jalan pintas, tak ada cara lain.

Seriuslah, janganlah engkau bermalas ria. Jangan pula berlaku lalai. Sesungguhnya penyesalan itu hanyalah milik para pemalas. – pepatah arab

#selfreminder



You May Also Like

0 komentar

Blog Archive

Entri yang Diunggulkan

Ibrah: Orang-orang Pergi. Apakah Mereka Kembali?

Bismillah. Kepergian itu sulit. Tapi, kehilangan lebih sulit lagi. Mengapa orang-orang harus saling meninggalkan? Jawabannya membawa saya...

Nobody's perfect

Pengikut